Laman

Sabtu, 18 Juni 2005

Taktik Poskota

Penasaran soal versi ganda Poskota, saya mengirim e-mail ke Pak Eko (Gunawan Eko Prabowo), Wapemred Poskota. Ini replay dari beliau:

Kami emang lagi coba-2 format compact. Background yang paling jadi pertimbangan antara lain soal complain pembaca yang bilang berita Pos Kota (broadsheet) kelewat dikit. Istilah mereka, 'dimakan' iklan baris.

Ini memang ironis karena di sisi lain, banyak orang bilang kekuatan Pos Kota ada di iklan eceran motor, mobil, rumah kost, dan sejenisnya.

Complain itu makin kenceng suaranya ketika Pos Kota naik harga dari Rp 1000,- jadi Rp 1500,- Maklum Mas, selisih harga gopek buat pembaca Pos Kota rupanya sangat terasa. Padahal dengan naik harga, keuntungan bersih buat pengecer dari Rp 300,- ikut naik jadi Rp 500,- Tapi mereka tetap gak bisa berbuat apa-apa kalau pembeli ngerasa berat.
Untuk mengakomodasi mereka yang mau baca berita tapi duitnya pas-pasan, akhirnya kami terbitkan versi tabloid (compact). Dan itu sebabnya di koran tabloid gak ada iklan mini, trus jumlah beritanya juga lebih banyak dibanding yang ada di versi broadsheet. Tapi kami tetap bisa jual versi tabloid Rp 1000,- karena jumlah halaman cuma 24 atau tiga lembar koran.

Tapi betul, kami terus menjajaki versi mana yang akhirnya kelak lebih disukai pembaca. Atau mungkin, pada akhirnya iklan mini juga akan masuk di versi tabloid? Biar pasar yang memutuskan karena pada akhirnya mereka adalah juri baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar