Laman

Minggu, 03 Oktober 2004

Koran Tempo

WARNING: INI BAKAL BIKIN BORING. Di bawah ini beberapa posting yang berisi diskusi soal Koran Tempo di sebuah milis Marketer yang lalu diforward ke milis Tempo.


Hary Novianto (luyutz@***.com) menulis:

Salam Marketer

Kalau firasat dan pengamatan saya benar nih, Koran Tempo saat ini sedang pusing mencari positioning yang tepat untuk Koran Tempo. Kalau kita baca koran tersebut, memang kesan tanggung benar-benar terasa, mau disebut koran bisnis tapi kupasan bisnisnya sedikit saja, mau teknologi ya juga tidak dalam sekali, mau disebut koran politik, mungkin koran lain lebih kuat positioningnya di segmen politik (liat posting riris). Kalau kata Om Hermawan Positioning itu "Reason for Being", jadi kalo reason-nya tidak jelas, ya janji ke konsumen jadi tidak jelas juga, differensiasi jadi sulit.

Padahal kata Si Oom Nicholas Negroponte (Bos MIT Media Lab), "I don't want 500 television channels. I just want the one channel that gives me what i want to see."

Kalau mau liat berita, ya liat CNN atau metro tv, mau liat musik ya liat MTV, mau liat dangdut liat aja TPI, mau liat cewek cakep beli aja Matra, mau trendi baca aja Cosmopolitan, mau liat profile sumarketer...baca aja di friendster...hehehe....Nah kalau Koran Tempo......semuanya tanggung..bingung khan mau baca apa?

Tak heran Iklan Koran Tempo pun terkesan bingung sendiri dalm menentukan positioning-nya di market, coba liat tagline-nya yang kira2 berbunyi di koran tempo tidak ada yg tidak penting"....semuanya penting???..kalau beritanya tanggung aja...so tanggung itu juga penting? jadi generalis dong..???? (Maaf ya buat advertising agency- nya.....ini sedikit kritik usil saja...)

Salam



Edi Aruman (edi_aruman@***.com) menulis:

Bisa jadi Anda benar ya?!. Sejak awal saya melihat ada kelemahan pada positioning Koran Tempo. Masih ingat apa yang dikatakan Bambang Harrymurti saat mau launching Tempo? Waktu itu, semasih di Tabloid Marketing, saya agak risau dengan pernyataan bahwa pesaing korannya itu adalah Kompas dan akan berusaha mengalahkan Kompas. Akibatnya Kompas marah. Distribusinya dia "kerjain".

Sekarang, kalau kita liat, apa sih yang membuat Koran Tempo beda dengan koran lain? Nggak ada. Jangan kan sama Kompas, sama Media Indonesia yang sudah lama terbit juga susah cari pembedanya. Bahkan kata orang Media Indonesia lebih lengkap. Koran Tempo mencoba bermain dengan lay-out, tapi seberapa banyak orang memperhatikan lay-out kalau judul berita dan isinya ya sama saja?

Sekarang bandingkan dengan Indopos. Koran asal kampung itu sedikit demi sedikit menemukan pembacanya di Jabotabek. Tak perlu grasa grusu untuk measuk ke pasar koran di Jabotabek. Itu yang dibangun Indopos.

Yang dilakukan Koran Tempo sekarang sudah pas. Koran lebih murah (bukan koran murah lho). Tapi, sampai kapan? beda dengan Indopos. Indopos bisa melakukan itu karena integrasinya dengan Jawa Pos Group. Kebutuhan berita? Dipasok sama JPNN. Jadi nggakperlu punya wartawan sebanyak Koran Tempo. Kalau pun kelihatan banyak, itu kan wartawan untuk banyak media.

Sang wartawa buat satu berita, sama JPNN ditransfer ke Rakyat Merdeka, untuk Jawa Pos di Jatim, untuk Fajar di makassar, untuk Palembang, Padang, untuk Riau Pos di Riau, untuk Manuntung di Kalimantan. Untuk Radar-Radar di peloksok kepuluan Indonesia. Oleh masing-masing koran dipoles sedikit sesuai dengan karakter daerahnya, jadi deh berita customized. Jadi biaya operasional pemberitaan ditanggung sekitar 100 koran group Jawa Pos.

Untuk distribusi? Sama saja. Untuk iklan? Sama saja. Bahkan bisa bundling dengan Jawa Pos. Untuk biaya transmisi pengiriman berita sama saja. Ditanggung bareng. Jadi secara cost, Indopos memungkinkan untuk menjadi koran yang lebih murah. Cocok dengan teorinya Porter.

Isinya, ada emosi yang dikembangkan. Lihat rubrik Jakarta Society-nya, Selulernya, Exhitionnya, Wanita Jakartanya, dsb. Pengelola Indopos mungkin berpikiran, untuk mengalahkan Kompas sebaiknya memberikan alternatif. Bukan menyamai rubriknya seperti yang dilakukan Koran Tempo, meski saya tahu bahwa pengelola Koran Tempo memang orang-orang pinter. sama pinternya dengan para pegelola Kompas. Cuma karena Kompas duluan besar, jadinya kalau banyak beritanya yang sama, orang pilih Kompas. Indopos, tidak pinter tapi cerdas. Lihat saja, event boleh sama tapi beritanya kan beda. Substansi boleh sama tapi alurnya berbeda.

Ke depan, model Jawa Pos Group ini yang bakal berkembang. Itu sebabnya, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Haluan, dsb memang perlu menata diri. sebab baik Kompas maupun Jawa Pos Group tent tak akan berpangku tangan dan ingin terus mengembangkan pasarnya.

Salam



Purwanto Setiadi (purwanto@***.co.id) menulis sambil dengerin Ramblin on My Mind - John Mayall:

Salam

saya terus terang bingung, nih, baca komentar-komentar ini. soal positioning, kita ini kan koran umum. apa perlunya lalu mesti mengklaim, misalnya, sebagai koran bisnis, politik, atau iptek (ini pasti cita-cita yosep, pengasuh iptek)? adanya keragaman -- sehingga kesannya jadi seperti tanggung, atau malah mengklaim semuanya penting -- ya wajar untuk koran umum. ini terjadi di mana-mana.

saya setuju, kalau kita mau jualan, positioning itu reason for being. tapi, buat kita, barangkali, yang mesti jelas adalah di lapisan masyarakat mana kita hendak menempatkan diri, atau bahkan, kalau mungkin, ceruk yang mana yang ada di sana. inilah diferensiasi, imho. kalau mau di kelas atas, ya, mesti konsekuen: bahwa di sana tiras kita tak akan bisa sebanyak kalau kita, misalnya, memilih lapisan bawah.

komentar soal kelengkapan: lebih lengkap itu apanya? keragaman isinya, yang hanya mungkin dilakukan jika jumlah halamannya lebih banyak? atau kelengkapan setiap item beritanya? celakanya ini komentar yang tak didukung data, sehingga lebih cenderung seperti kesan saja.

kalau keragaman isi, apalagi per issue, apa boleh buat, kita angkat tangan. kita cuma punya 24 halaman; koran tempo belum sampai bergedebug jika dilempar. tapi kalau kelengkapan setiap item berita, maksudnya logistiknya (sumber-sumbernya, datanya), kita memang masih harus bekerja keras, meski tak berarti saat ini kita kedodoran dan tertinggal jauh.

menurut saya, yang tak boleh diabaikan dalam kaitannya dengan hal itu adalah ada atau tidak kecenderungan bias pemberitaan. kita beruntung tak punya beban apa-apa karena tak berafiliasi dengan siapa pun atau kelompok apa pun. memang, ini kerap lebih berupa nuansa. tapi, hei, pembaca kita kan (mestinya) orang-orang pintar?

yang saya sulit menghubungkan adalah problem tentang apa beda antara koran tempo dan kompas atau media indonesia dengan argumen tentang harga dan pasokan berita, yang memberi contoh indo pos. mengenai perbedaan, ini satu hal. selama kita semata-mata bekerja dengan mengikuti arus (yang nyatanya sulit benar diabaikan), berita-berita yang sama tetap akan ada. mungkin malah hampir sebagian besar dari isi koran. faktor-faktor prioritas, kebijakan redaksional, dan (barangkali) selera saja yang membuat beda.

harga -- ini juga soal yang lain lagi -- memang mungkin lebih murah untuk indopos. soalnya, ya, itu: jppn yang memasok berita, sharing cost, wartawan nggak perlu banyak (gajinya juga ditekan sekecil mungkin bila perlu). saya setuju, jppn-like adalah keniscayaan yang mustahil kita abaikan seandainya kita pun menjadi sebesar jawa pos group. tapi gaji?

sebetulnya yang lebih penting adalah tak bisa begitu saja membandingkan koran tempo dengan indo pos. cara-cara indo pos melakukan penetrasi pasar mungkin bisa menjadi pelajaran buat kita. kalau soal isi, ya, tak setara, dong, wong kelas pembacanya (maunya) beda.



Bagja (bagja@***.co.id) menulis:

Mungkin karena di Indo Pos dan Media berita-berita yang diinginkan orang iklan terpenuhi. Karena itu mereka menyebut "lengkap". Beberapa teman di lapangan mengeluh karena harus meliput berita antah berantah untuk menggaet iklan, atau sekadar memancing perusahaan yang diliput naro iklan. Beberapa yang lain suka cita kalo yang diliput mau masang iklan, karena ada fee dari sana. Sebab itu, versi "lengkap" akan selalu berbeda.



Dimas Adityo (dimas@***.co.id) menulis:

Saya tidak setuju dengan pendapat bahwa Koran Tempo sulit dicari bedanya dengan Kompas, maka orang lebih memilih Kompas. Menurut saya ini salah, dan mungkin orang yang berpendapat seperti ini nggak pernah naik kereta jabotabek.

Coba deh, naik kereta jabotabek, baik yang kelas ekonomi maupun yg kelas eksekutif (Pakuan), baik dari bogor maupun dari arah sebaliknya. Lihat penumpangnya yang sedang membaca atau menenteng koran. Lihat apa korannya. Sebagian besar membaca/menenteng : Koran Tempo. Kenapa? ini pasti bukan karena pemasaran Koran Tempo di stasiun-stasiun dan diatas kereta lebih baik dari pemasaran Kompas. Dan juga bukan karena harga Koran Tempo lebih murah dari Kompas.

Lantas apa? menurut saya, justru inilah beda Koran Tempo dengan Kompas. Koran Tempo yang penyajian beritanya lebih ringkas, dan tidak bersambung ke halaman lainnya ini justru dipilih orang-orang seperti penumpang kereta jakarta-bogor tadi. Coba kalau mereka membaca Kompas, mereka harus membolak-balik halaman bergepok-gepok untuk membaca sambungan berita, dalam kondisi kereta yang penuh sesak atau sedang berdiri di dalam kereta, ribet kan? oleh sebab itulah, menurut saya, orang memilih Koran Tempo, karena ringkasnya, karena praktisnya.

"Mengintip" pembaca koran di atas kereta jabotabek dan di stasiun-stasiun, itu hanya salah satu contoh. Coba lihat di tengah-tengah keramaian lalu-lintas di kota jakarta. Lihat mobil-mobil yang di-dashboardnya ada koran, coba lihat korannya. Mungkin kita akan sering lihat Koran Tempo di-dashboard mobil orang jakarta.

Menurut saya, ya itu tadi, itulah bedanya dengan Kompas. Koran Tempo dipilih orang karena keringkasan dan kepraktisannya. Apalagi bagi orang-orang sibuk, dan "mobile" yang hanya perlu inti-inti beritanya saja, gak perlu berita panjang-lebar seperti Kompas. Coba Kompas, dengan bergepok-gepok halaman, sepertinya akan lebih nyaman dan cocok kalau dibaca di rumah, sambil santai, sambil meyeruput kopi panas di teras rumah, dan tidak sedang tergesa-gesa seperti pada umumnya orang jakarta sehari-hari. Itulah bedanya Koran Tempo dengan Kompas....

Sekedar masukan, salam.



Budi Putra (budip@***.co.id) menulis:

Apalagi di Bandara Schippol.... cuma ada Koran Tempo. Tinggal masukkin 3 euro ke vending machine, Koran Tempo sudah di tangan..... Kompas mana ada.... apalagi Indopos? :-p

4 komentar:

  1. setuju sama dimas adityo.

    kalo lagi insap, saya suka beli koran di cawang, buat dibaca di bis, atau di kantor atau di rumah ntar malemnya. pilihannya, jelas kortem. alasannya, jelas krn praktis, beritanya pendek, dan kalo baca halaman pertama ga perlu bolak-balik ke halaman 11. yang terjadi biasanya, saya cuma menuntaskan halaman pertama. tapi ga masalah. emang cuma itu yg diperluin, soalnya. cuma butuh tahu 'what's going on nowadays', tahu 5W1H-nya and that's all. saya ga merasa perlu baca banyak2 atau lebih mendalam karena.. hehehe..ngga minat juga.

    Oh, mkn itu ya: orang beli kompas karena minat (pada segala info yg buuanyak itu), dan orang beli kortem krn ngerasa perlu (u/ tahu info terkini biar ga cengok2 bgt kl diajak ngomong org lain atau sekadar lagi insap aja, kayak saya)

    eh eh, satu lagi: kalau hari Minggu, jelas Kompas. Karena apa? Nah, yg ini kebalik: Karena minat, bukan perlu.

    BalasHapus
  2. Bukan karena harganya? :-)

    Mingguan Kortem juga lengkap loh, coba aja sekali-kali beli

    BalasHapus
  3. Bicara perbedaan memang harus dilihat dari berbagai aspek. Mungkin Kompas lebih bagus dari jaringan sirkulasinya. Jumlah halaman dan tentu design-nya yang berbeda. Tapi, apakah penilaian sebuah koran hanya dilihat dari oplahnya? Atau harus dilihat dari presentase kecerdasan pembaca. Saya justru melihat perbedaan itu harus dinilai dari, seberapa besar keberanian media melawan arus (pola pikir masyarakat). Bukan hanya sekadar memanfaatkan peluang dengan pola pikir masyarakat kita yang masih kurang. Akhirnya, memilih segment pasar masyarakat kelas bawah, dengan alasan ini koran rakyat (bahasanya pun merakyat.) Dan dari segi keakuratan data dan bahasa, TEMPO lebih berani melawan arus tadi. Bukan hanya memanfaatkan perbedaan pasar untuk bisnis. Dan inilah perbedaan media yang diingin oleh ratusan juta rakyat Indonesia. Mendidik.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus