Iklan

stockxpert

Thursday, November 06, 2008

President Obama



Reaksi desain Koran Tempo atas kemenangan Obama pada pemilihan presiden AS bikin saya kangen menjadi tukang koran. Ada semangat bermain di situ. BTW blog Newsdesigner mendisplay "Top 50 U.S. front pages" dari peristiwa itu. Silakan liat!

Thursday, December 06, 2007

Tukang Majalah

"Eko, mulai sekarang tugas kamu adalah membuat majalah lifestyle untuk pembaca usia 25-40 tahun!, unisex, mapan, 80% akan didistribusikan kepada para pemegang kartu kredit premium, 20% dijual untuk umum. Nama majalah itu U"

Perintah itu serta merta membuat saya tidak lagi menjadi "Tukang Koran" empat bulan terakhir ini. Artinya dengan baik hati kantor saya tidak membebankan pekerjaan membuat koran lagi--baiklah mungkin saya masih harus membantu sedikit. Gantinya saya sibuk mereka-reka bentuk majalah, sesuatu yang rada asing bagi saya. Dan itu juga yang membuat blog ini terbengkalai :-)

Dulu saya sempat gagal membuat majalah parenting, hasilnya tidak maksimal. Waktu itu saya terpaksa membuat majalah parenting tersebut hanya karena pemiliknya suka dengan ide logotype saya. Dia sudah putus asa dengan logotype yang diciptakan desainer lain karena tidak ada perbedaan dengan majalah lain, lalu dia minta tolong saya. Tanpa beban saya tawarkan logo seperti emoticon ini: ;-) eh dia suka dan tiba-tiba saya harus membuat semuanya, sampai halaman dalam. Singkatnya, kecuali soal logo nyengir itu, baik saya maupun yang punya majalah itu tidak puas dengan hasilnya, dan saya dipecat.

Kembali ke majalah yang harus saya garap tadi. Yang langsung saya bayangkan adalah majalah gaya hidup tapi tidak sehura-hura Cosmopolitan karena kelompok usianya rada senior dan berkelas karena akan dibaca mayoritas oleh pemegang kartu kredit premium, tapi tidak juga sekonvensional Bazaar karena masih mencakup usia 30 tahun ke bawah juga. Detik itu juga saya langsung berfikir untuk membuat sesuatu yang clean tapi nakal.

Awalnya logotype majalah baru ini saya buat hanya sebagai aksentuasi saja, alasannya 80% majalah tersebut sudah pasti dibagikan, artinya tidak perlu berperang di jalan untuk memperkenalkan identitas, itu pikiran saya. Maka logotype saya buat tipis saja, saya ingin artwork atau foto cover yang dominan. Tapi ketika dibawa ke tingkat direksi, logo saya gagal total, saya gagal meyakinkan mereka dengan keunikan yang saya tawarkan pada logotype tersebut.

Pesan direksi: logo harus jelas dan berbau Tempo. Minggu selanjutnya saya bawakan logo sejelas-jelasnya dan berwarna merah (secara Tempo gitu loh), aksen logo pertama tetap saya akomodasi. Redaksi setuju, saya juga sedikit puas.

Konsep foto cover sempat berubah tiga kali. Pertama konsepnya seperti foto-foto profil-nya Hendra Suhara yang selalu "mempermainkan" modelnya. Misalnya dia pernah memotret Jusuf Kala sedang mencoret-coret strateginya untuk mencapai kursi RI-2, lalu Christine Hakim yang dipaksa berpose di dalam cangkang telur raksasa, atau lihatlah buku biografi Sugiharto yang pada sampulnya mantan menteri itu dipaksa berjualan asongan.

Untuk contoh konsep itu saya gunakan foto Dewi Lestari karya Hendra. Dewi telanjang dan berendam di bathtub yang dipenuhi kopi, foto itu pernah menjadi ilustrasi di majalah Tempo untuk cerita soal kumpulan cerpen Dee berjudul Filosofi Kopi. Hasilnya tidak terlalu menarik dan perlu persiapan yang rumit dalam pemotretannya.

Lalu konsep kedua adalah dengan menggunakan digital imaging, seperti foto-foto fashionnya Annie Leibowitz. Untuk konsep ini kami rencananya menggunakan jasa profesional. Kami bikin konsep dan mereka yang mengeksekusi, good news for me! Konsep kami adalah metamorfosis, modelnya Happy Salma. Dikonsepkan Happy Salma dalam proses metamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu. Setelah menanti seminggu-dua hasilnya tidak sesuai seperti yang kami harapkan

Dan dari hasil yang ada kami terpaksa membuat versi sendiri.

Perkembangan kemudian, ada konsep ketiga. Terinspirasi dari sebuah buku tentang pangan dunia. Pada buku tersebut tokoh-tokoh yang berkomentar difoto dengan "semena-mena". Mereka disiram beras, gula, minyak, jagung, gandung dan lainnya. Dari situ kami membuat konsep foto cover setengah badan tanpa busana pada setiap edisi. Yang membedakan dari foto dasar itu pada setiap edisi akan ditambahkan aksi yang sesuai dengan tema utama majalah. Misalnya jika tema besarnya soal kekerasan dalam rumah tangga, maka model akan difoto setengah badan dengan mata lebam dan ada tinju melayang, lalu untuk tema anti aging model setengah badan itu wajahnya akan diberi patern seperti akan dioperasi plastik, dan seterusnya. Cita-citanya setelah beberapa edisi akan terlihat kesinambungan gaya dan konsep seperti buku tersebut.


Dan konsep cover ketiga inilah yang diterima. Lalu mulailah kami menyesuaikannya dengan tema edisi pertama: gaya hidup peduli lingkungan. Ini alternatif-alternatif yang kami tawarkan


Alternatif paling atas yang akhirnya kami cetak, yaitu Happy Salma dan sehelai daun jarak. Majalah ini sudah beredar di pasaran 3 Desember lalu.

Untuk halaman dalam saya buat tetap clean tapi berusaha membuat kejutan pada tiap halaman. Contoh desain halaman dalam dapat dicari di sini.

"Aku kok belum lihat soul-nya, ya?" Paman Tyo menanggapi majalah ini. Beliau juga jadi kontributor loh di U magz. Penasaran baca tulisannya? Beli!

Sunday, May 06, 2007

Paman Tyo Live!

Maaf sy akn telat, br smp rmh, td kena mct di cawang"

SMS itu sangat melegakan saya yang sedang panik. Saat SMS itu masuk, saya baru saja terbangun dari tidur yang tidak disengaja, padahal setengah jam lagi saya janjian ketemu si pengirim SMS itu di Hot CMM, Jatibening.

Sekitar satu jam kemudian saya bertemu langsung bapak funky yang saat itu bercelana pendek. "Lumayan udah 20 menit", katanya.

Dari SMS, telepon dan isi blognya, saya merasa segan dengan Paman Tyo. Tapi ketika ketemu langsung, ternyata ia sangat akrab bersahabat, nyaman ngobrol dengannya. Ia juga murah hati: saya dapat suvenir unik dan ajaib.

Dari obrolan hampir 2 jam ditemani dua gelas kopi, segelas es teler dan segelas jus tomat serta A-mild yang tidak pernah putus itu saya berkesimpulan: Paman Tyo banyak taunya dan pinter. Tidak banyak orang redaksi yang paham betul kerja desainer, bahkan Paman Tyo juga paham sablon kaos!

Bangga rasanya bisa kenal "pemberontak" dari institusi yang sangat mapan dan konservatif. Sayang saya tidak bisa mengorek "what's next" dari isi kepalanya. Sepanjang obrolan, tidak pernah putus saya bertanya dalam hati: kenapa orang hebat ini mau-maunya ngobrol dengan saya.