Laman

Selasa, 10 Mei 2005

Tabloid Koran Tempo (Broadsheet Is Dead)



Mulai senin (9/5) kemaren, Koran Tempo berubah format fisik. Jadi taboid. Separuh ukuran sebelumnya yang broadsheet.

Proyek redesign Koran Tempo menjadi koran kompak dimulai sejak setahun lalu. Dimulai dengan keinginan mengubah menjadi format 7 kolom. Lalu awal tahun ini ada usul untuk mengubah menjadi format tabloid, karena trennya emang akan ke sana dan "...hanya penerbit penakut yang melakukannya secara bertahap," kata Mario Garcia, konsultan redesign koran dari Garciamedia,yang telah sukses me-redesign antara lain The Wall Street Journal, The Miami Herald, dan Die Zeit.

Stylesheet dan color palete yang digunakan masih pake format broadshet, kecuali perubahan font bodytext, desain baru menggunakan font Excelsior 9pt, leading 10,5 (was: Century Oldstyle 8,2pt/9.5).

Tempo sempat membeli beberapa font seharga US$600 dari fontbureau.com. Tapi setelah digunakan pada simulasi pertama, 12 dari 10 orang tidak setuju dengan penggunaan font baru itu. Lima hari menjelang terbit edisi kompak, kami putuskan untuk menggunakan stylesheet lama yang menurut kami sudah teruji.

Perubahan lain yang sempet dicoba adalah membuat logotype menjadi 2 baris. Tapi hasilnya terkesan kurang serius. "Sebagai quality paper, kita harus tetap berkesan konservatif," kata mas Edi RM.

Proyek redesign ini betul-betul bikin saya jadi (sok) sibuk, dan saya sempet kena tifus juga (virus itu harusnya buat Yosep, yang sibuknya 10 kali lipet:-)).

Tapi saya bahagia (cieee), setiap kali redesign gak dapet perhatian dari pembaca, baru kali ini responsnya luar biasa. Saya sampe terharu, biasanya respons pembaca lebih banyak ketika kami salah ngetik hasil pertandingan Antara Man-U lawan Arsenal ketimbang mengubah desain perwajahan.


Jalansutera.com:
... Secara umum Koran Tempo memang tampil lebih bersih dari enak dipandang. Saya pikir, koran ini pun lebih enak ditenteng di perjalanan. Halaman dalamnya saya pikir masih sama dengan versi broadsheet kecuali bahwa beritanya makin ringkas dan di tiap halaman ada satu judul besar yang cukup mencolok mata tanpa membuat indera penglihatan ini menjadi lelah...

Mimi:
... udah lama gue mengidamkan format koran dalam bentuk kompak seperti ini, menurut gue lebih enak dibaca, gak bikin ngantuk. Entah apa hubungannya design sebuah benda--dalam hal ini koran--dengan rasa kantuk dan perasaan senang membaca, mungkinkah seperti kursi yang di design se-ergonomis2 nya supaya orang yang duduk gak merasa pegel, capek, dan sakit pantat (pengetahuan hasil ikutan nimbrung di kelas desain grafis masa kuliah dulu) :))...

kéré kêmplu:
... Koran kecil lebih enak ditenteng dan dibaca, terutama dalam bus kota dan KRL Jabotabek yang tak penuh. KorTem, koran yang menurut saya bagus, tapi kayaknya secara bisnis belum menggembirakan. Cobalah cari di luar Jabotabek: tak semua agen dan pengecer ada sedia. Di Jakarta, agak siangan dikit itu koran sudah dibanting harganya. Saya sedih kalau sebuah media bagus kurang laku. Kasihan yang bikin. Memang sih ada saja debat, kalau kurang laku berarti berarti kurang disuka khalayak, artinya kurang bagus. Kalau pakai logika ini, maka Lampu Merah itu koran bagus...


Kalo ada pendapat kontra silakan isi comment.

SeriousModeOn.
Tulisan opini di bawah ini dimuat di halaman Pendapat pada hari pertama Koran Tempo terbit dengan format kompak. Selamat membaca, salam kompak!



Fenomena Bernama Tabloiditis
Purwanto Setiadi, Wartawan Tempo

Sepanjang dua tahun terakhir, migrasi yang riuh telah melanda industri koran, khususnya di Eropa. Majalah The Economist menyebutnya dengan istilah tabloiditis.

Dalam fenomena itu, puluhan koran memutuskan untuk berpindah format atau ukuran kertas, dari semula berukuran besar sembilan, delapan, atau tujuh kolom (broadsheet) ke ukuran tabloid atau format kompak. Mereka melakukannya dengan tetap mempertahankan jurnalisme berkualitas. Tren ini diperkirakan masih akan berlangsung pada tahun-tahun mendatang, bahkan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jim Chisholm, penasihat strategi World Association of Newspaper (WAN), dalam laporan berjudul New Designs, New Format, malah mendeklarasikan: "Broadsheet sudah mati."

Chisholm memang terkesan kelewat bersemangat. Sebab, dalam kenyataannya, koran berukuran besar masih banyak. Gairah untuk bermigrasi juga belum tampak meluap di Amerika Serikat, yang kerap menjadi kiblat untuk banyak hal termasuk koran. Tapi bahwa format kecil, kompak, adalah respons jitu terhadap perkembangan zaman, jawaban atas beberapa persoalan yang dihadapi koran pada umumnya, sekaligus yang membukakan peluang yang selama ini tak tergarap, terbukti dari pengalaman di Eropa.

Semua itu bermula dari keputusan The Independent, koran yang diterbitkan di London sejak pertengahan 1980-an. Pada September 2003, koran yang disebut-sebut bereputasi radikal ini mulai meluncurkan edisi berukuran tabloidnya di samping edisi broadsheet; keduanya memuat isi dan iklan yang sama. Hanya berselang dua bulan kemudian The Times, yang juga terbit di London dan sudah berusia 216 tahun, mengambil jalur yang sama.

Perkembangan yang baik, terutama di sisi sirkulasi, segera meletupkan semangat untuk melakukan perubahan serupa di kalangan pengelola koran di banyak negara Eropa. Sejak awal 2004, koran-koran ini berturut-turut menyusul melakukan migrasi: Gazet van Antwerpen dan De Standaard (Belgia), The Irish Independent (Irlandia), The Scotsman (Skotlandia), dan Blick (Swiss). Revolusi terbesar terjadi di Swedia. Dalam waktu yang singkat, 13 koran di negara ini menyeberang ke format tabloid.

Mereka umumnya mengadopsi siasat The Independent dan The Times, menerbitkan dua format bersamaan dalam jangka waktu tertentu sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada format broadsheet. Ini pula yang dilakukan oleh New Straits Times (NST), koran Malaysia yang sudah berusia 160 tahun. Baru bulan lalu koran ini benar-benar meninggalkan broadsheet. "Sebuah kesempatan yang menyedihkan...," kata Pemimpin Redaksi Grup New Straits Times Kalimullah Hassan dalam pengantar perpisahannya, "Tapi pada saat yang sama kami, dengan bermacam cara, bangga bahwa kami telah menjalankan langkah berani untuk terus maju."

Sebuah langkah berani, untuk apa? Jelas, untuk meninggalkan segala hal menyenangkan, tradisi yang mapan, dan semua hal baik yang sudah diraih bersama format broadsheet; untuk mengambil risiko, untuk beradaptasi dengan perubahan zaman dan gaya hidup pembacanya.

Yang terbawa oleh perubahan zaman dan mempengaruhi kelangsungan hidup koran, mula-mula, adalah transportasi massa dan mobilitas personal. Dua hal ini menyebabkan orang tak bisa leluasa membawa-bawa, apalagi membaca, format broadsheet. Siapa mau koran yang hanya bisa dibaca di meja, terlalu besar untuk dibaca di kereta, bus, atau pesawat, dan perlu mata yang sanggup menjangkau jarak rentang baca di luar kemampuan?

Selain itu, televisi dan Internet telah mengubah cara sebagian besar orang memperoleh informasi. Jumlah pembaca koran di banyak negara terus-menerus turun; pembaca tua banyak yang sudah meninggal, sementara pembaca muda tidak tumbuh signifikan. Koran-koran gratis dan alternatif, yang kebanyakan memilih format kompak, dengan artikel-artikel ringkas, justru lebih menarik minat, terutama di kalangan generasi muda.

Perubahan ke format kompak adalah wujud dari keniscayaan bahwa ukuran koran akan terus mengecil untuk menyesuaikan diri--agar bertahan dan bisa membidik peluang-peluang baru. Mario Garcia, desainer yang menjadi konsultan dalam banyak proyek perubahan format koran, yakin pembaca memang menginginkan perubahan itu. "Trennya ada, dan tren ini tak bisa dihentikan," katanya kepada The Observer.

Masih banyak juga koran yang memilih bertahan, atau berubah perlahan-lahan dengan cara memilih ukuran kertas antara broadsheet dan tabloid (format Berliner). Koran The Guardian, misalnya, yang berada dalam tekanan akibat langkah-langkah The Independent dan The Times, mengisyaratkan hendak memakai format Berliner saja untuk "mempertahankan integritas jurnalisme The Guardian".

Namun, Garcia menilai strategi berubah perlahan-lahan hanya berguna bagi redaktur dan penerbit penakut, bukan untuk pembaca. "Pembaca tak peduli pada langkah-langkah evolusioner. Mereka hanya ingin Anda melakukannya," katanya.

Karena itu, Garcia dan banyak desainer dan kalangan lain percaya bahwa soal waktu saja perubahan bakal menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Simaklah kata-kata Tony Smithson, direktur produksi koran The Courier-Journal di Kentucky, Louisville, Amerika Serikat, ini: "Saya kira, secara pribadi, dalam 5 hingga 10 tahun broadsheet akan menjadi anakronisme, keganjilan. Anda tak akan sering melihatnya."


The Jakarta Post write:

'Koran Tempo' launches a radical facelift
City News - May 10, 2005
Damar Harsanto, The Jakarta Post, Jakarta

Two students aboard a train from their campus of the University of Indonesia in Depok, West Java heading to Kota, West Jakarta looked surprised when they received the Monday edition of Koran Tempo daily that was half of the usual seven column broad sheet size.

"Is this the new look of the paper? It is similar to the size of tabloids, right?" said one student to the other while starting to open the paper's 48 pages.

The publisher of Koran Tempo claimed that the new look was really "radical".

"There has been a growing trend in the international community, especially in Europe, for publishers to switch to a more compact size instead of the broad sheet. Sooner or later, we would have to follow the trend. That's why we decided to start the change now," the paper's chief editor Toriq Hadad told The Jakarta Post.

Toriq cited several examples, like El Pais in Spain, The Independent and The Times in Britain, which have adopted the more compact format from their initial broad sheet layout.

"The Malaysian New Straits Times which has a 159-year old tradition of using broad sheet has eventually decided to turn to the compact size after newcomer daily The Star that uses the compact copy managed to beat the former's circulation," he said.

He added that the change had saved The New Strait Times' face, which later managed to raise its circulation by 10 percent.

In its editorial on Monday, the publisher also said that the compact size was also part of efforts to lure young readers, who have high mobility, focus on certain issues, are progressive and more informal, with the more handy and eye-catching graphic design of the paper.

"The compact format also opens more opportunities for advertisers to place full-page ads with less money to spend," it said.

Toriq said that a special team of four editorial staffers had worked on the new format for a year.

The team of four comprises Purwanto Setiadi, Yosep Suprayogi, Yuyun Nurrachman and Eko Punto Pambudi.

"They had been working with dummies before they finally came up with the present format," he said.

Fortunately, the board of directors agreed to the proposed format.

According to Toriq, the change was nothing to do with slashing production costs.

"The change has required us to recruit two new photographers to help produce more pictures," he said.

Some editorial staffers also had to come earlier in the morning to finish some parts of the 48-page edition, he added.

Koran Tempo currently sells between 140,000 and 170,000 copies daily.


Foto-foto dicuri dari mbah kung (d/h) kéré kêmplu

5 komentar:

  1. beruntunglah mereka, dan berbahagialah desainernya, yang mengabadikan format lama kortem dalam panil. pertama: ruang rapat kantor saya. kedua: toko alat musik di mal taman anggrek [baru dua pekan lalu saya ketahui]. edisi yang dibingkai kok ya sama, yaitu ultah fender strat yang dua halaman koran dengan gambar jimi hendrix itu. kemarin saya dan teman saya yang desainer grafis membayangkan cetak ulang [digital] edisi itu di atas matt paper. tapi ah, kekusutan korannya, berikuit bekas lipatan, jadi ilang dong... kayak ngeliat hasil repro gitu. :)

    BalasHapus
  2. huhuhu... jadi ini yang bikin kalian tidak hadir di hari bersejarah saya..
    (hehe, komennya egois gini :p)

    BTW, gue suka sebel sama orang2 yg duduk dalam bis yg suka baca dan membolak-balik koran sampai mengekspansi daerah kawan sebelahnya (baca: gue). Eh, gue kl baca koran di bis sangat sopan lho. cuma baca halaman depan dan belakang, isinya diintip2 dikiiit ..aja. hehehehe.. :p

    selamat!

    BalasHapus
  3. salam kenal mas...boleh tau emailnya gak? eh lihat blog saya juga ya..www.desain.blogdrive.com

    BalasHapus
  4. Anonim11:42 PM

    Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Rebat FBS TERBESAR – Dapatkan pengembalian rebat atau komisi
    hingga 70% dari setiap transaksi yang anda lakukan baik loss maupun
    profit,bergabung sekarang juga dengan kami
    trading forex fbsasian.com
    -----------------
    Kelebihan Broker Forex FBS
    1. FBS MEMBERIKAN BONUS DEPOSIT HINGGA 100% SETIAP DEPOSIT ANDA
    2. FBS MEMBERIKAN BONUS 5 USD HADIAH PEMBUKAAN AKUN
    3. SPREAD FBS 0 UNTUK AKUN ZERO SPREAD
    4. GARANSI KEHILANGAN DANA DEPOSIT HINGGA 100%
    5. DEPOSIT DAN PENARIKAN DANA MELALUI BANL LOKAL
    Indonesia dan banyak lagi yang lainya
    Buka akun anda di fbsasian.com
    -----------------
    Jika membutuhkan bantuan hubungi kami melalui :
    Tlp : 085364558922
    BBM : fbs2009

    BalasHapus