Terbit pertama kali 15 Desember 2011, hari ini
Harian Detik mengabarkan penutupannya. Alasannya adalah karena mereka merasa belum bisa meraih cukup besar pembaca dengan cepat guna memastikan bahwa model bisnis
Harian Detik bisa berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kehadiran
epaper yang 100 persen
epaper ini menurut saya sangat
visioner. Saat media lain hanya terfokus pada eforia iPad,
Harian Detik paham bahwa mereka bisa membagi hasil kerja kerasnya ke platform lain yang lebih besar penggunanya, yaitu
web pada
desktop dan
smartphone, juga Android.
Dari sisi desain, menurut saya kelemahan
Harian Detik adalah--disadari atau tidak--mereka masih patuh pada cara mendesain media cetak: Permainan
layout yang atraktif, warna-warni kontras, modifikasi jenis huruf yang beragam, dan terutama pembagian kolom yang khas media cetak.
Tampilan
layout yang atraktif memang memanjakan visual, tapi tidak nyaman dibaca pada layar
gadget. Justru
layout datar dengan pemilihan
font yang dingin menurut saya yang tepat untuk media digital. Untuk menarik secara visual, fungsi interaktifnya yang seharusnya ditonjolkan.
Pada surat perpisahan mereka di halaman 2 edisi Jumat Sore, 19 Juli 2013, mereka memakai istilah "memarkirkan", mudah-mudahan ini betul-betul hanya masa hibernasi, dan setelah ini mereka terbangun kembali dengan produk yang lebih matang.