Iklan

stockxpert

Thursday, January 13, 2005

Broadsheet vs Tabloid

[ Sorry, but I lost this post :-( ]

.....encetak format broadsheet untuk edisi hari kerja. Times mengikuti langkah Independent, mencetak dengan dua format, mulai November 2003 dan benar-benar menghapus format broadsheet pada November tahun lalu. endent dan times sap dan nur, tahun 1999 di jakarta juga pernah ada koran yang dicetak dalam format tabloid. namanya "monitor". konsep beritanya pendek-pendek dan mencoba agak dalam. tapi, beberapa bulan kemudian, konsepnya berubah lagi jadi tabloid mingguan. entah kenapa terus tidak ditemukan lagi di pasa....

6 comments:

imponk said...

Bisnis Indonesia sudah mulai format kecil kan? Gimana oplahnya ya? Semoga masih tetep :)

Koran indonesia nasibnya bisa niru saja ya? Di luar negeri sudah ada koran tisu, apakah nanti di Indonesia juga ada?

Tukang Koran said...

Bisnis Indonesia? Mungkin maksudnya suplemen ekonomi awal tahunnya yang 32 halaman itu ya? Kalo itu cuma suplemen aja. Koran Tempo punya suplemen (seukuran tabloid) juga: "Ruang Baca" dan "Keluarga" yang diterbitkan tiap bulan. Kalo Republika tahun lalu sempet punya "Rekor" dan "Dialog Jumat", tapi sekarang udah dijadiin satu seukuran koran induknya... kalo gak salah :-)

Tukang Koran said...

Nambah buat Imphonk: Gimana kalo kita sebut aja mengikuti tren?

eyi said...

oi! itu blog kenapa? kok jadi kayak sampul black album gt?

kéré kêmplu said...

ohhhh tabloid. secara fisik formatnya lebih enak. dibaca di bus kota gak terlalu menyita ruang penumpang sebelah.

saya juga pernah ngomongin tabloid di http://gombal.blogdrive.com/archive/460.html

usulan untuk anda:
http://gombal.blogdrive.com/archive/94.html

bahan tertawaan anda untuk melecehkan saya:
http://gombal.blogdrive.com/archive/447.html

haha. saya sebetulnya ingin berdiskusi banyak dengan anda. lagian saya sudah pernah bilang, pernah membingkai [panil] kortem, dan saya perlakukan selayaknya poster, saya pasang di ruang rapat.

salam,
saya

Tukang Koran said...

Eyi: Kan Indonesia Menangis... telat, ya?


Kéré kêmplu: Mbah Kung, diem-diem saya pelanggan blog Anda, loh. Selalu menjadi suatu kehormatan Mbah Kung mampir di sini.

Bakal sangat menyenangkan kalo kita bisa ngobrol, e-mail-e-mail-an, yuk!